16 oktober 2010, seharusnya aku ada ujian tengah semester hari ini, yang mana aku sama sekali belum belajar. tapi sebuah keadaan yang sangat sedikit menguntungkan aku (aku tidak akan sebut ini berkah), ujian itu ditunda, karena seorang guru di sekolah ku meninggal dunia.
aku datang ke sekolah pagi hari ini, seharusnya setelah itu aku menghadiri pemakamannya. teman-teman terlihat lebih ceria karena ujian ditunda, sementara ketua GSO ku masih tidur di rumah dan baru bangun jam 11 melewatkan undangan menghadiri pemakaman dari sekolah. temanku rafi berkata 'hebat ya ibu itu meninggal bisa sampe nunda UTS gini'. oh ya? kematian memang hebat. tapi menurutku, kematian tidak perlu di-hebat-kan.
tanggal 15 oktober, hari dimana ibu itu meninggal, aku sedang bersibuk ria dengan teman-teman GSO, kemudian hang out di cafe saat les bahasa inggris. i was having fun, and someone was on her death. ironis.
tanggal 17 oktober, kami berencana memohon doa kepada ibu tersebut agar kegiatan GSO kami lancar tanpa halangan. yah, bisa dibilang, dia terkenal bisa jadi 'pawang hujan' dan semacamnya.
dan seberapa besar ekspektasi kita, selalu ada halangan terbesar.
tanggal 15 oktober, hujan rintik turun dengan tenang.
tanggal 16 oktober, angin sejuk berhembus sepanjang pagi sampai siang, mengiringi pemakamannya.
tanggal 15 oktober sampai seterusnya, dia akan tersenyum di samping tuhan, amin.
bukankah hidup sesuatu yang dapat cepat dibuang? sebuah ephemera.
kapankah hidup ku akan kau buang, tuhan?
tolong, jangan jawab dulu.
No comments:
Post a Comment