siang ini aku pulang ke rumah lewat jalan biasa, lewat lampu merah yang hijau nya super sebentar dan merah nya super lama itu. dan seperti biasa, ada wanita itu, memainkan kayu yang ada besi bulat2nya, lalu bernyanyi tidak jelas.
aku selalu kasih dia, bahkan lebih dari yang aku kasih ke orang lain, kadang seribu atau dua ribu. karena aku tau, orang seperti dia susah mencari pekerjaan, walaupun belum terlalu tua dan tidak cacat.
dia jadi hapal sama aku, dia selalu menyapa 'mbaak..' sambil tersenyum kemudian mengatakan terimakasih. pernah dia mendoakan aku agar aku sukses dalam ujian nasional dan seleksi kuliahku. tau tidak, itu nambah semangat aku. bahkan orang kayak gitu percaya bahwa aku bisa dan mendoaakan aku.
siang ini aku di barisan paling belakang di antrean lampu merah, sebelahku pohon besar. hari ini hujan deras, wanita itu hanya berdiri di bawah pohon tidak mengamen seperti biasanya. tapi dia sepertinya mengenali mobilku, kemudian menghampiriku sambil menutupi kepalanya dengan tas ku.
aku membuka jendelaku.
"sugeng siang mbak..." katanya sambil senyum
aku senyum sambil memberi uang 2ribu rupiah.
"sendirian mbak?"
"i.. iya."
"lho kok nangis?"
"eh, nggak papa"
"lho mbak.. eh lewat milo nggak mbak?"
kemudian lampu merah itu berubah menjadi hijau, aku terpaksa maju, wanita itu mengikuti, mobilku masih jauh dari persimpangan.
"lewat milo nggak mbak? saya boleh ikut?"
tanpa berpikir aku mempersilahkan dia, padahal dia basah, dan akupun tidak kenal dia.
di dalam dia menanyakan kenapa aku menangis, aku cerita. bukan masalah percaya tidak percaya, tapi aku pikir tidak masalah, dia tidak akan kenal tokoh-tokoh yang ada di cerita ku. aku cerita, lalu dia mulai membalas. istilahnya, aku di sepik. dan aku termakan sepikannya. aku mulai seenggukan, aku merasa lebih baik, dan aku pada akhirnya tertawa mendengar leluconnya.
sampai di milo, aku menurunkan dia. dia mengucapkan terimakasih dan begitu pula aku. aku melanjutkan perjalanan ke rumah sambil memikirkan semua perkataan dia, semua ucapannya terdengar begitu logis.
sampai di rumah, aku menyadari bahwa uang 2ribu yang aku beri ke dia tidak ia bawa, ia tinggal di kursi penumpang, atau mungkin tertinggal aku tidak tau.
mbak, andaikan kamu masih menjadi laki-laki, aku mungkin naksir kamu.
terimakasih semangatnya tadi :)
oh iya tadi aku tanya nama nya, selama ini aku tidak tau, dia jawab sambil mikir sebentar, aku tidak tau apakah dia belum memikirkan nama ceweknya, atau sedang berpikir sebaiknya dia kasih tau namanya dulu atau nama cewek nya sekarang. lalu dia menjawab: "mikayla (aku tidak tau bagaimana ejaannya) dari kata miracle," lalu dia tertawa genit.
No comments:
Post a Comment