Untuk Sesuatu yang Bernama Kenangan

waktu itu aku merasa sedikit berarti bagimu karena kau telah mempercayakan sebagaian kecil lapisan dalam dirimu padaku. Kemudian kebahagiaan kecil itu kau rampas lagi dengan menganggapnya sebagai sekedar basa-basi ucapan 'selamat pagi'. Pedih, pedih sekali rasanya. Rasanya seperti menjadi sebentuk kecil tanaman yang baru bertunas tapi dicabut oleh tangan kasar.

malam ini aku begitu kangen padamu. aku betul-betul kangen sehingga bernapas saja rasanya dadaku sakit. Anehnya keangkuhan masih saja menghalangiku melompati pagar menjenguk rumahmu di seberang jalan itu. Entah dari mana datangnya keangkuhan ini. mungkin dari sosokmu yang jarang-jarang muncul itu. mungkin dari kerinduan pada kalimat-kalimat sederhanamu yang acap membuatku terlambung. mungkin dari keberjakaan kita yang sudah tak mengijinkanku untuk memanggilmu 'sayang'.

jarak yang tak seberapa itu jadi jurang yang dalam dan terjal buatku untuk menyapamu. menanyakan sekedar apa kabar jadi terlalu berlebihan rasanya. padahal aku melihatmu hari ini tanpa kau melihatku. tadi kau berjalan terburu seperti mencoba beradu langkah dengan bayangan tubuhmu. saat itu juga aku mengulang beberapa menit kebersamaan paling indah waktu kita berdua mengejar pelangi di tengah gerimis.

"maukah kau tinggal sebentar? nyaman rasanya jika kau duduk di sini." dua kalimat yang sederhana itu membuatku tak ingat apa-apa lagi selain matamu yang resah. aku pernah bertanya kenapa kau selalu resah, kau bilang badanmu terlalu berat bagi jiwamu yang gampang melompat-lompat. lalu di mana jiwamu yang waktu itu disampingmu? katamu, jiwamu telah berteman dengan jiwaku dan mereka sedang berbincang-bincang jika kita duduk bersisian. aku tak begitu tahu apa artinya. setahuku kita cuma duduk tanpa berbuat apa-apa. Kita cuma menunggu waktu yang berlari tergesa-tergesa di belakang kita. tahu-tahu kau sudah harus pergi dan awan-awan itu menyembunyikanmu dalam kilapnya. tampaknya kau berat meninggalkanku karena - seperti katamu - kau nyaman bersamaku. sayang aku tak sempat bilang, sepotong waktu yang sempit itu kini menjadi semacam mantera yang selalu kuulang-ulang sebelum tidur.

lain waktu lagi kau cerita tentang perjalanan panjang. mengenjungi negeri-negeri dalam dongeng, melintasi laut dan gunung dalam hitungan detik, menyelinap di antara hujan, angin dan kilat. aku cuma mendengar, menikmati matamu yang menggenggam seluruhku. "mestinya kau ikut aku, aku tak sanggup memindahkan keindahan itu dalam kata-kata. kau harus melihatnya sendiri. aku takut sebetulnya keindahan itu tak seberapa, namun jadi luar biasa karena saat melihatnya aku ingat kau." begitulah kau membuatku ringan seperti awan yang melayang dalam ceritamu lewat keajaiban huruf-huruf.

kemana kau kini? kemana lagi kata-kata itu? mengapa langit begitu rapi menyimpanmu? aku cuma punya ingatan yang dengan setia aku ulang-ulang dalam setiap kesempatan menyebut namamu. setiap pengulangan atas ingatan denganmu mengiris batinku sepotong demi sepotong dan aku melakukannya sendiri setiap saat. sebentuk ruang hampa di hati ini telah melelehkan darah yang mengalir pada setiap denyutan jantungku.

sekali waktu kau muncul tiba-tiba. "aku kangen."

buat apa? apakah kangenmu bisa bikin luka di hatiku yang tercoak mengering? barangkali kau cuma ingin membebaskan jiwamu yang gemar berlaku liar itu. jiwamu tak sanggup hanya berteman dengan satu jiwa, jiwamu adalah milik seluruh jiwa lain yang kau kenal.

tampaknya aku memang tak pernah bisa benar-benar kenal kau. kau adalah jiwa bebas yang tak bisa dikekang. kau adalah keresahanmu yang kau nikmati sebagai dirimu sendiri. aku cuma sepotong jiwa yang kebetulan membuatmu tersandung dalam pengembaraanmu mencari kebebasan. aku terlalu bodoh jika menyangka aku dapat mencintaimu. mencintaimu berarti bunuh diri. mencintaimu adalah perbuatan bodoh yang sia-sia seperti memberangus macan dengan sehelai benang.

dan kangenmu itu cuma bisa kujawab dengan, "aku juga," sebelum kau terbang lagi meninggalkan ruang hampa milikmu di sini.

19 April 1999 ; Rima Olivia dalam buku 'Sirkus Emosi'

No comments:

Post a Comment