69, 96, dan 77 diantaranya

makna telah lama menyingkir ketika sesuatu yang tak mereka tahu mengacaukan segala hal yang telah mereka sepakati. kata-kata terbang di udara tanpa punya daya ikat untuk bertutur. sunyi jadi pelarian yang terus menerus ketika mereka gagal lagi menjalin cerita. lalu jadi sebuah kebiasaan.

69 mencoba merengkuh 96, tapi dengan dingin ia menjauh. jarak itu, yang terjelma dari kekecewaan yang tak pernah terungkap, semakin terentang, meletakkan mereka masing-masing pada ujung yang berbeda.

"ada apa denganmu?" tanya 69.
"ada apa dengan kita?" 96 balik bertanya.
"aku tidak punya masalah dengan kita," jawab 69.
"aku punya," ujar 96, singkat.
"kalau begitu, mari kita bicara," pinta 69.
"kita sudah selesai membicarakannya," potong 96.

memang, sesungguhnya sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan, karena setiap kali mereka bicara, semua akan berakhir dalam diam. garis itu. garis itu selalu ada di sana, memisahkan mereka berdua. seperti langit dan laut. seperti laut dan daratan. 69 selalu terisak. 96 mendesah.

"jangan lakukan itu," pintanya, "tolong."

tapi 69 tak bisa mencegah air mata. 96 menyerah. ia membuang pandang ke luar jendela, membiarkan pikirannya bergumul dengan awan kelabu yang bergulung-gulung menguasai langit, membiarkan 69 dengan tangisnya. aku lelah, keluhnya dalam hati, tapi ini bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan sebelum usai. ia berbalik, menatap 69 yang akhirnya kehabisan isak. 69 menatapnya dengan mata yang basah. 96 menyandarkan tubuh penatnya di dinding.

"baiklah, kita bicara."

tapi 69 terlanjur meringkuk di sudut hatinya, menutup pintu yang mengangakan sunyi.

"kamu mencintainya," ujar 96.

69 tak menjawab. apa pun yang dikatakannya akan salah. tentu saja aku mencintainya. melebihi segalanya. melebihi diriku. namun tak sepotong pun kata terucap. 96 tak akan mengerti. tak kan bisa. maka 69 tetap diam. tubuhnya yang terpaku pada tempat duduk melepaskan hatinya terbang menggagap, lalu hinggap pada lelaki itu. 77. ia selalu memenuhi diriku. aku tak bisa mengelak, tentu tak bisa. ia telah hidup dalam diriku sejak semula. dan aku selalu dalam dirinya, sejak sebelum segalanya, meski ia tak selalu tahu. 96 menatap 69 yang mematung dan mendesah lagi. setelah sekian lama hidup bersama, ia benar-benar tahun di mana 69 kini berada. 96 mendekat, menyentuh pundak 69 dengan lembut, hati-hati untuk tidak memecahkan gelembung lamunannya. tapi 69 tetap tersentak, seperti dicerabut dari tidur yang melenakan. 96 berlutut di hadapannya. bagaimanapun, ia tetap mencintai perempuan itu.

"tapi cinta bisa salah," 96 mendesak, "tentu kamu tahu itu."

69 menggeleng. 96 mengangguk. ia benar, keduanya terpisah oleh jurang makna yang tak terjembatani. dan ia nyaris putus asa berusaha menyebranginya. 96 menetapkan hati, memutuskan untuk mencoba, mungkin terakhir kali, seperi yang telah selalu dikatakannya pada diri sendiri.

"cintamu padanya meracuni kita. tak kamu sadarikah bahwa itu juga menyiksanya?"

69 menggeleng lagi.

"ia memujamu," 96 belum menyerah, "kamu tahu. dan kamu membiarkannya."

69 menggeleng. lagi. kuat-kuat. tangannya naik menutupi telinga. erat-erat.

"aku mohon padamu," 96 merengkuh tubuh 69, "tolong hentikan. cintamu padanya membunuhku pelan-pelan. juga dia. ini cinta yang salah. dengan menjejalinya, kamu telah membelenggunya. dia tak akan pernah utuh. tak kan. kamu membuatnya timpang karena mencandumu. seumur hidupnya, dia akan mencari orang sepertimu. itu membuatnya menderita, sayang. tolong.... hentikan...."

kali ini laki-laki itu runtuh. air mata menetes dia di wajahnya yang keras, membasahi pangkuan perempuan itu. waktu hening, seperti akan jadi selamanya. tapi bahkan kesakitan pun berumur. pelahan mereka memunguti ceceran hati, merekatnya jadi satu meski tahu tak bisa lagi pulih. mereka kembali berdiri, kembali merentang jarak. pelahan tangan mereka mengusap air yang tak sempat mengering dari wajah.

dari jauh terdengar langkah-langkah yang sudah sangat mereka kenal. 77 datang, memasuki gelembung sunyi yang sudah sangat ia kenal. meresahkan, tapi setelah sekian tahun, ia menjadi terbiasa. ia memandang ayah dan ibunya lalu beringsut menghilang ke dalam kamar, kepompong yang tak akan pernah melahirkannya menjadi kupu-kupu. 69 dan 96 berpandangan hampa. tak mengerti mengapa cinta dapat demikian menyedihkan.

karya Avianti Armand.

No comments:

Post a Comment