(repost) antologi cerita pendek

Hidupku sempurna.

Nyaris sempurna.

Atau memang itu semua hanyalah kesempurnaan semu yang tidak kusadari? Katakanlah harta. Aku memilikinya. Dengan mudah kusebutkan nominal sebuah mata uang dan yang akan terjadi selanjutnya adalah keberadaan sesuatu yang telah terbeli oleh uang tersebut. Bila hari ini cerah. Mudah saja kuputuskan untuk pulang menaiki mobil mewah bak pejabat.

Aku mampu.

Aku menginginkan segenggam pasir putih dan yang akan datang pada genggaman ku selanjutnya adalah pasir putih beserta mutiara diantaranya. Mereka selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan ku, bahkan melebihi apa yang seharusnya pantas kumiliki. Aku bukan orang yang bisa dibilang tamak dalam hal ini. Tidaklah pantas menikmati sesuatu yang berlebih dari hasil yang bukan atas keringat sendiri.
Di dalam dunia ini beserta seluruh isinya, ada 1 hal yang aku musuhi dan teramat aku benci. Jatuh cinta. Dia menghancurkan hariku, menghancurkan tataruang hati dan pikiran. Dia amat menguras tenaga, melumpuhkan fisik. Sungguh tiada yang lebih menjengkelkan dari ini.
Bagaimana tidak? Kau. Ya! kau! membuatku meninggalkan berbagai hal untuk dipikirkan hanya untuk memikirkan seorang pria yang belum tentu cintanya diperuntukkan untukku. Dengan mudahnya kau memporak porandakan isi hati dan kau jejalkan begitu banyak rasa cemburu yang berkecamuk bila pria yang aku cinta berdekatan dengan wanita lain.
Kau menghancurkan ekspresi wajahku.

Kau penuhi kelopak mataku dengan warna hitam. Sungguh aku sukar terlelap saat memikirkan berbagai prospek yang ada.

Aku membencimu namun aku tak bisa menolak keberadaanmu.
Aku membencimu namun keberadaan mu selalu aku butuhkan dan aku cari.
Hingga pada akhirnya kumiliki pria itu dengan bibit 'jatuh cinta' yang selama ini aku pungkiri keberadaannya.
Untuk pertama kalinya kurasakan dan kunikmati apa yang ku raih dengan hasil keringat sendiri. Aku rela menukar mobil mewah ku dengan motormu hanya untuk mengantarkan ku pulang dari padatnya kegiatan sekolah. Aku rela menukar seluruh uang ku dengan waktu yang akan kuhabiskan bersamamu bila itu memang perlu. Sekali lagi, aku rela dengan konsekuensi apapun asal aku bisa menghabiskan hari hanya untuk memikirkanmu dan bersamamu.
Celakanya, apakah kau ber-visi sama dengan visi milikku? Tidak.
Apa yang ingin kau tukar untuk menghabiskan waktu denganku? Kau tak pernah berniat menukar apapun.
Hidupku Sempurna.
Harta dan cinta yang berkelimpahan.
Benarkah?
Aku tahu kita saling sayang dan mencintai. Namun cukupkah itu?

karya Cintya Duni - APHRODITE

No comments:

Post a Comment